Transformasi ERD ke Basis Data Relasional.

“>Download Tulisan

Untuk membantu teman-teman maupun rekan-rekan baik umum maupun berstatus mahasiswa yang ingin mempelajari dan mengenal lebih lanjut mengenai transformasi dari ERD menjadi basis data relasional, saya coba untuk berbagi melalui tulisan di sini. Akan tetapi untuk mempermudah anda memahami materi di bawah, anda harus telah memahami terlebih dahulu mengenai basis data relasional, normalisasi dan ERD. Semoga Allah membantu anda dengan memberi kemudahan untuk memahaminya.

Untuk Apa dilakukan Transformasi

Model Entity Relationship (ER) yang disajikan dengan Diagram ER (biasa disebut dengan ERD) bukanlah sebuah basis data relasional. Keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Karena perbedaan tersebut maka diperlukan proses transformasi dari sebuah ERD menjadi suatu basis data relasional lengkap dengan tabel-tabel (atau relasi) yang telah memenuhi standar normalisasi (paling tidak normalisasi hingga tingkat 3NF). Rancangan basis data relasional hasil transformasi sendiri bergantung kepada desain awal ERD yang telah dibuat. Apakah rancangan tersebut nantinya akan baik dan maksimal dalam merumuskan kebutuhan aturan bisnis perusahaan, serta memenuhi aturan integritas basis data relasional, bergantung pada keahlian, ketelitian dan keberuntungan anda mendesain ERD tersebut.

Ada 12 Aturan yang digunakan untuk melakukan transformasi. 12 Aturan ini di dasarkan dari pemilihan jenis entity, tipe atribute, relationship degree, ratio constrain dan participation constrain yang tergambar di ERD. Untuk membantu anda untuk mengingatnya, saya kelompokan 12 aturan tersebut sebagai berikut:

  • Aturan 1 & 2 berbicara mengenai entity dan atribut.
  • Aturan 3 & 4 berbicara mengenai unary relationship.
  • Aturan 5 s/d 10 berbicara mengenai binary relationship.
  • Aturan 11 berbicara mengenai ternary relationship.
  • Aturan 12 berbicara mengenai weak entity.

Yang anda harus ingat dan pahami dalam menggunakan 12 aturan transformasi ini, yaitu:

  • Kerjakan proses transformasi secara bertahap dan berurut dari aturan 1 sampai dengan 12.
  • Tidak semuanya aturan harus dilakukan. Akan banyak sekali aturan-aturan yang terlewati karena tidak memiliki ciri-ciri yang disebutkan oleh setiap aturan.
  • Telitilah dalam melihat setiap relationship, terutama jika anda ingin mentransformasi dari suatu ERD yang cukup besar.
  • Aturan 1 adalah aturan yang mutlak dilakukan.
  • Menurut pengalaman saya, aturan yang paling sering digunakan adalah aturan 8 dan 10 karena memang ciri-ciri inilah yang paling sering muncul pada sebuah ERD. (Anda akan lihat sendiri nanti)

Sekarang mari kita membahas mengenai aturan transformasi tersebut satu persatu.

Aturan 1 – Entity dan Atribut Simpel, Key & Composite

“Setiap entity yang ada di ERD dibuatkan suatu relasi di mana relasi tersebut memuat semua atribut key dan simple. Sedangkan untuk atribut composite, dibuatkan atribut sesuai dengan komponen-komponennya saja.”

  • Buatkan relasi-relasi untuk mewakilkan setiap entity yang ada pada ERD.
  • Atribut key pada setiap entity, secara otomatis menjadi primary key pada relasi bersangkutan.
  • Atribut simple pada setiap entity, secara otomatis menjadi atribut-atribut baru pada relasi bersangkutan.
  • Atribut composite pada setiap entity, maka hanya komponen-komponen pada atribut composite tersebut yang menjadi atribut di relasi bersangkutan.

Aturan 2 – Atribut Multivalue

“Setiap relasi yang mempunyai atribut multivalue, maka dibuatkan sebuah relasi baru di mana primary key-nya bertipe composite key. Primary key tersebut yaitu gabungan dari Primary Key dari entity yang memiliki atribut multivalue dan nama atribut multivalue itu sendiri.”

  • Buatkan sebuah relasi baru.
  • Relasi baru ini memiliki primary key bertipe composite key (kunci gabungan).
  • Primary key tersebut adalah gabungan dari Primary Key dari Entity tersebut dan nama Atribut multivalue itu sendiri.

Aturan 3 – Unary Relationship 1:N

“Setiap unary relationship 1:N, pada relasi tersebut perlu ditambahkan suatu foreign key yang menunjuk ke nilai primary key-nya.”

  • Pada relasi yang mewakilkan entity yang dimaksud perlu ditambahkan sebuah atribut yang bertindak sebagai foreign key.
  • Atribut foreign key ini mengacu pada primary key milik relasi itu sendiri.
  • Sebagai saran, untuk penamaan atribut foreign key di sini, gunakan penamaan yang tepat yang dapat memberikan informasi apa nama primary key acuan dan alasan kenapa mengacu pada primary key tersebut (biasanya adalah penamaan relationship unary di ERD).

Aturan 4 – Unary Relationship M:N

“Setiap Unary Relationship M:N, buatlah relasi baru dimana primary key-nya bertipe composite key. Primary key tersebut yaitu gabungan dari dua atribut di mana keduanya menunjuk ke primary key relasi awal dengan penamaan berbeda.”

  • Buatkan sebuah relasi baru.
  • Relasi baru ini memiliki primary key bertipe composite key (kunci gabungan).
  • Primary key tersebut adalah gabungan dari dua atribut foreign key, yang kedua-duanya mengacu pada primary key relasi awal.
  • Kedua atribut foreign key yang menjadi primary key ini harus memiliki penamaan yang berbeda. Penamaan ini biasanya mengacu kepada sebab terjadinya relationship unary tersebut seperti: induk – anak atau head – detail.

Aturan 5 – Binary Relationship 1:1 dgn kedua sisi Total Participation Constrain

“Setiap Binary Relationship 1:1, dimana kedua sisi Total Participation Constrain, buatlah suatu relasi baru yang merupakan relasi gabungan dari kedua entity yang be-relationship dan menghapus dua relasi lama, di mana primary key-nya pada relasi baru tersebut dapat dipilih salah satu dari dua primary key relasi awal.”

  • Buatkan sebuah relasi baru.
  • Relasi baru tersebut berupa gabungan dari dua relasi awal yang berarti semua atributnya berasal dari dua relasi awal.
  • Kedua relasi awal harus dihapus karena telah diwakilkan dengan relasi penggabungan yang baru dibuat tersebut.
  • Primary key untuk relasi baru ini dapat dipilih salah satu dari dua primary key relasi awal yang digabungkan.

Aturan 6 – Binary Relationship 1:1 dgn satu sisi Total Participation Constrain

“Setiap Binary Relationship 1:1 dan salah satu Participation Constrainnya total, maka Primary key pada relasi yang Participation Constrainnya Partial menjadi Foreign Key pada relasi yang lain.”

  • Pada relasi yang bersisi total participation constrain, perlu ditambahkan sebuah atribut yang bertindak sebagai foreign key.
  • Foreign key ini mengacu pada Primary key di relasi yang bersisi partial participation constrain.

Aturan 7 – Binary Relationship 1:1 dgn kedua sisi Partial Participation Constrain

“Setiap Binary Relationship 1:1, dimana kedua Participation Constrainnya partial, maka selain kedua relasi perlu dibuat relasi baru yang berisi Primary Key gabungan dari Primary Key kedua tipe Entity yang berelasi.”

  • Buatkan sebuah relasi baru.
  • Relasi baru ini memiliki primary key bertipe composite key (kunci gabungan).
  • Primary key tersebut adalah gabungan dari dua primary key entitas yang berelasi.

Aturan 8 – Binary Relationship 1:N dgn sisi N Total Participation Constrain

“Setiap Binary Relationship 1:N, dimana tipe Entity yang bersisi N mempunyai Participation Constrain Total, maka Primary Key pada relasi yang bersisi 1 dijadikan Foreign Key pada relasi yang bersisi N.”

  • Pada relasi yang bersisi N, perlu ditambahkan sebuah atribut yang bertindak sebagai foreign key.
  • Foreign key ini mengacu pada Primary key di relasi yang bersisi 1.

Aturan 9 – Binary Relationship 1:N dgn sisi N Partial Participation Constrain

“Setiap Binary Relationship 1:N , di mana tipe Entity yang bersisi N mempunyai Participation Constrain Partial, buatlah relasi baru di mana Primary Key-nya merupakan gabungan dari Primary Key kedua tipe Entity yang berelasi.”

  • Buatkan sebuah relasi baru.
  • Relasi baru ini memiliki primary key bertipe composite key (kunci gabungan).
  • Primary key tersebut adalah gabungan dari dua primary key entitas yang berelasi.

Aturan 10 – Binary Relationship M:N

“Setiap Binary Relationship M:N, buatlah relasi baru dimana Primary Keynya merupakan gabungan dari Primary key kedua tipe Entity yang berelasi.”

  • Buatkan sebuah relasi baru.
  • Relasi baru ini memiliki primary key bertipe composite key (kunci gabungan).
  • Primary key tersebut adalah gabungan dari dua primary key entitas yang berelasi.

Aturan 11 – Ternary Relationship Degree

“Setiap Ternary Relationship, buatlah relasi baru dimana Primary Keynya merupakan gabungan dari Primary Key ketiga Entity yang berelasi.”

  • Buatkan sebuah relasi baru.
  • Relasi baru ini memiliki primary key bertipe composite key (kunci gabungan).
  • Primary key tersebut adalah gabungan dari tiga primary key entitas yang berelasi.

Aturan 12 – Weak Entity

“Setiap tipe Weak Entity, dibuat suatu relasi yang memuat semua atributnya di mana Primary Key-nya adalah gabungan dari Partial Key dan Primary Key di relasi induk (Identifying owner).”

  • Buatkan sebuah relasi baru.
  • Relasi baru ini memiliki primary key bertipe composite key (kunci gabungan).
  • Primary key tersebut adalah gabungan dari partial key milik weak entity dan primary key milik relasi induk.

Download Materi

Materi kuliah Basis Data untuk mahasiswa STIKOM Dinamika Bangsa Jambi Program Studi Teknik Informatika sudah dapat di-Download. Silahkan lihat di Sini.

Untuk materi kuliah yang lain, akan di-Upload secepatnya. Harap bersabar. Terimakasih.